You are here: Home News General Articles Otoritas Pencetakkan Dinar Dirham
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Search

Otoritas Pencetakkan Dinar Dirham

E-mail Print PDF

tBY ABDARRAHMAN RACHADI, WAZIR AMIRAT INDONESIA

 

 

Sekilas Mengenai Pentingnya Otoritas dalam Pencetakkan dan Pengedaran Dinar dan Dirham

Ada baiknya kita cermati yang berikut ini mengenai kepemimpinan/ otoritas seorang pemimpin Muslim, apakah ia seorang Amir, Sultan maupun Khalifah:

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta para pemegang otoritas di antaramu. (Q.S An Nisa 59)

 

Tugas dan kewajiban seorang pemimpin (Amir) menurut Imam Qurtubi, berdasar tafsir atas ayat dalam Surat An Nisa 59, adalah:

1. Menetapkan dan mengotorisasi dua salat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) dan salat Jum’at

2. Menjamin kemurnian dan kebenaran timbangan dinar dan dirham

3. Menjamin dan menjaga kebenaran takaran, ukuran, dan timbangan di pasar

4. Menunjuk petugas zakat, menarik, dan mendistribusikannya menurut ketentuan yang ada

5. Menyiapkan diri untuk memimpin jihad, dan bila berhasil, mengumpulkan dan membagikan harta pampasan (ghanimah)

6. Menetapkan awal Ramadhan

 

-------------

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Sallalahu alayhi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka sungguh ia taat kepada Allah dan barangsiapa yang mengingkari aku, maka sungguh ia telah ingkar kepada Allah. Barangsiapa mentaati Amirku maka ia telah taat kepadaku. Siapa yang mengingkari Amirku, maka sungguh ia telah ingkar kepadaku.” (HR Muslim Bukhari)

------------- 

Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepadamu maka mereka berbai’at kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barang siapa melanggar janji setia mereka melanggar janji setia kepada dirinya sendiri. Dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. . (QS Al Fath 10) 

 

Saya akan memulai jawaban saya dengan membahas sedikit latar belakang dari kembalinya Dirham dan Dinar di masa ini. Kedua koin ini dicetak pertama kali pada tahun 1992 oleh Haji Umar Ibrahim Vadillo, pendiri WITO dan WIM yang juga pemimpin komunitas/ jama'ah umat Muslim di Spanyol dan juga seorang Ra'is (Amir dari para Amir)  dari berbagai komunitas/ jama'ah umat Muslim di berbagai penjuru dunia, antara lain, Skotlandia, Spanyol, Inggris, Jerman, Afrika Selatan, Meksiko, Amerika Serikat, Malaysia dan Indonesia. Adalah Haji Umar (dibawah bimbingan guru beliau, Shaykh Abdalqadir as Sufi, seorang ulama yang membukakan pintu bagi kita semua mengenai arti riba dan bagaimana menghindarinya) yang kemudian menghadirkan realitas Dirham dan Dinar bagi kita seluruh umat Muslim, hal ini bukan hanya mengenai fisik koinnya semata, akan tetapi juga membukakan pintu bagi kita bagaimana seharusnya Islam secara kaffah, baik dari sisi ibadah dan muamalah. Realitas kembalinya Dirham dan Dinar diikuti oleh pelengkap dan penerapannya, yang utama adalah Zakat Mal, diikuti oleh wakaf, sedekah, infak beserta penerapan muamalah lainnya. Termasuk hal yang penting diantara ini adalah: Otoritas/ kepemimpinan. 

Otoritas adalah fitrah dan melekat dalam Islam, otoritas tidak sama dengan monopoli. Otoritas berasal dari kata dalam bahasa Inggris, authority, menurut kamus Oxford: 

Authority 

ORIGIN Middle English : from Old French autorite, from Latin auctoritas, from auctor ‘originato

noun (pl. authorities1 the power or right to give orders and enforce obedience. 2 a person or organization having official power. 3 recognized knowledge or expertise. 4 an authoritative person or book. 

Amr / Amir dalam bahasa Arab: amaro-kata kerja (alif, mim, ro) artinya memerintah, amir-kata subyek/ pelaku artinya pemerintah, amir adalah pelayan ummat (khadimun ummah). 

Saya ulangi, dalam Al Qur'an, Allah, subhanu wa ta'ala, bersabda:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta para pemegang otoritas di antaramu. (Q.S An Nisa 59)

 

Dalam setiap hal, termasuk dalam penetapan Dirham dan Dinar selalu terkait dengan otoritas, termasuk apa yang dilakukan oleh Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam, Khulafaur Rasyidin, Tabi'in dan Tabi'in wa tabi'in beserta para Sultan. Ini pula yang sedang kita kembalikan bersama-sama. Dirham dan Dinar tanpa otoritas akan menjadii komoditas semata, rentan terhadap manipulasi fisik, nilai tukar serta penerapannya.

 

Otoritas melekat erat dalam Islam dan bukan adopsi dari kapitalisme, Islam-lah satu-satunya deen yang masih mengatur dengan nyata bagaimana muamalah serta otoritas, yang melindungi muamalah, dijalankan. Sedangkan kapitalisme dan demokrasi menciptakan kekacauan dan ketidak taatan, termasuk pernyataan 'Tidak diperlukannya otoritas'. Analogi sederhana (jika masih diperlukan): Apa jadinya sebuah regu gerak jalan tanpa komandan regu? Akankah mereka berjalan rapi? Silahkan baca artikel 'Otoritas Dinar Dirham untuk Kemaslahatan Ummat'

 

Apa yang terjadi saat ini, sebagaimana yang dibahas dalam artikel 'Pebisnis Dinar yang Menyimpang' bukanlah hal baru. Sejak zaman Khalifah Marwan (penggunaan sukuk sebagai alat tukar), Kesultanan Mamluk (pencetakan fulus, yang diposisikan menjadi Nuqud) sampai kepada masa kini ketika terjadi penyimpangan-penyimpangan di Malaysia yang dilakukan oleh IGD Exchange (mirip seperti yang dilakukan oleh kedua pelaku yang disebut dalam artikel tersebut) sampai kepada yang terjadi saat ini dimana banyak sekali orang-orang mencetak Dinar Dirham diluar apa yang dikerjakan Haji Umar, yang artinya berada diluar otoritas.

 

Salah satu mplikasi dari pencetakan Dirham dan Dinar yang tidak sesuai dengan syariah adalah melihatnya sebagai koin emas, dimana 'hanya emasnya' yang dilihat dan 'dihargai', hal ini lebih baik daripada tidak menerimanya sama sekali.  

 

Kami dari Wakala Induk Nusantara, yang berada di bawah Amirat Indonesia, mengundang semua lapisan ummah untuk menerapkan kembali muamalah secara menyeluruh, saat ini  juga terus dilakukan beberapa inisiatif berupa penarikan dan pembagian Zakat, penegakkan kembali pasar, termasuk inisiatif terbaru GARNISSUN BANGSA, WAKAF IMARAH DAN PASAR, serta program-program yang mendukung kerja keras Haji Umar Ibrahim Vadillo di Malaysia. Semoga Allah, subhanahu wa ta'ala, melindungi kita dari perpecahan dan fitnah. Saya mohonkan kepada Allah, semoga pihak yang melakukan penyimpangan menyadari kesalahannya, dan kembali merapatkan shaf jamaah Islam.  Amin

Last Updated ( Friday, 23 July 2010 11:38 )